Calendar

July 2008
SunMonTueWedThuFriSat
 << < > >>
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Who's Online?

Member: 0
Visitor: 1

rss Syndication

13 Jun 2008 
Puisiku nyaris usai, saat kutemukan jasadmu tergeletak di ujung gang dekat simpang jalan menuju lokalisasi pelacuran. Tubuhmu pucat pasi, tak bergerak, wajahmu penuh lebam, ada luka sayatan panjang dilengan serupa mantra atau mungkin saja semacam rajam, ah aku tak cukup paham. Aku tak perlu paham, aku hanya berteriak kepada orang-orang yang lalu lalang, melambaikan tangan, berharap ada yang datang memberi pertolongan. Nihil, tak ada yang peduli, bahkan menolehpun tidak. Aku serupa makhluk halus yang transparan, kebingungan diantara keramaian, siluet panjang.  

Semalam, kau memilih meninggalkanku sendirian, menyusuri jalan dan trotoar, menari-nari dalam pekat malam, membiarkan rambutmu tergerai panjang, menyelinap diantara rintik-rintik hujan dengan tubuh telanjang. Semalam, sebelum kau menghilang, saat kita bersetubuh panjang, kutemukan ditengkukmu luka menganga lebar. Ada aroma busuk menyeringai menusuk-nusuk indera penciuman. Aku memilih diam, tak berkutik, membiarkanmu menguasai keadaan. Ada nuansa pengkhianatan kutemukan dalam rintihanmu yang panjang. 
 

Pukul satu tengah malam, jasadmu kubaringkan didepan sajadah panjang. Kusembahyangkan dengan damai tanpa dendam.

Admin · 4 views · Leave a comment
29 May 2008 
kau telah menusuk ulu hati ku berulang kali
membiarkan luka menganga lebar
tak ada rasa sakit, tak ada nanah, darah beku

kau pula yang telah merampas ribuan kenangan
yang kusimpan rapi di langit-langit ingatanku

padahal semuanya adalah rahasia

kadang kau seperti peluru hampa udara
menerobos masuk ke jantungku
memar dan ngilu begitu terasa

kini kau telah hilang dari peta
berlalu dalam kabut pada senja kala
bersama mu kau bawa serta seribu kenangan  


aku telah mencintaimu, ning

laksana kanak-kanak pada gula-gula
gundik pada sang raja


Admin · 17 views · 1 comment
28 May 2008 
Barangkali sebagian kita sudah sering membaca cerita mulia berikut ini ...
tapi tidak ada salahnya untuk direnungkan kembali.


Admin · 12 views · Leave a comment
28 May 2008 

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.
Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.
Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu.
Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel.
Wajahnya tampak sedih.
"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu.
"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.
Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.
"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.
Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.
Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.
Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
"Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu.
"Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.

Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,"jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.
Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika
kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sumber : Motivasi.Net


Admin · 12 views · Leave a comment
15 May 2008 
sahabat, aku bukan penyair
aku hanya belantara gersang
yang rindu pada awan meteskan hujan
pada ilalang mengabarkan angin, rerumputan
rombongan kelelawar dan burung punai

aku bukan juga pengembara
hidupku hanya ranting-ranting
patah dan gerus oleh musim
gemuruh halilintar dan pasang purnama
aku adalah aku yang dahulu
belantara mengajarkanku bertahan
ranting-ranting adalah titian panjang
serupa mantra tentang masa depan
padahal ia telah lama kusematkan ke langit
diantara bintang dan biru membentang
perjalanan hanya sepetak ruang
demi waktu yang barangkali masih panjang
akan ku isi dengan makna yang dalam 


Banda Aceh, May 2008


Admin · 19 views · Leave a comment

1, 2, 3  Next page